Logo

Sinergisitas Subjek Pendidikan Untuk Mewujudkan Tujuan Pendidikan

Diposting pada tanggal 1 Juni 2025
Sinergisitas Subjek Pendidikan Untuk Mewujudkan Tujuan Pendidikan

Penulis : Ar Rafi Nur Rochim 

Pendidikan merupakan hal fundamental dalam kehidupan manusia. Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin tentu sangat banyak membahas tentang pendidikan. Sebagai contoh, wahyu pertama yang diterima Rasulullah adalah iqra’, yang sering disandingkan pada konteks pendidikan. Pendidikan yang baik menghasilkan kualitas kehidupan yang baik pula. Oleh karenanya, menjaga mutu pendidikan adalah tugas seluruh elemen yang terlibat dalam berjalannya roda pendidikan untuk mewujudkan peradaban dunia yang lebih baik dan cemerlang.

Pendidikan sebagai upaya pembentukan manusia seutuhnya, tidak hanya cukup memenuhi aspek kognitif saja, tapi harus juga mencakup pembentukan akhlak, dan nilai-nilai keislaman. Untuk mencapai tujuan yang luhur ini, diperlukan sinergi yang kuat antara seluruh subjek pendidikan agar prosesi pendidikan berjalan dengan lancar. Karena, yang menjadi penanggung jawab pendidikan adalah seluruh elemennya.

Sinergisitas dalam konteks pendidikan, sederhananya adalah optimalisasi keterlibatan seluruh subjek pendidikan yang harmonis, bekerja sama untuk saling menguatkan satu sama lain guna tercapainya tujuan pendidikan. Subjek di sini adalah pelaku pendidikan, yaitu; peserta didik, keluarga, lembaga pendidikan, masyarakat, hingga pemerintah; yang mana masing-masing memiliki peran krusial dalam mewujudkan tujuan pendidikan. Sudah seharusnya kita pahami, bahwa prosesi pendidikan yang tidak saling terkoneksi antara satu elemen dengan elemen lainnya akan melahirkan pendidikan yang cacat, pendidikan yang tidak sempurna.

Ketika masing-masing subjek sadar akan peran dan fungsinya dalam pendidikan, kemudian membangun interkoneksi dengan lainnya, maka akan tercipta bangunan pendidikan yang ideal; yang saling menguatkan, menyatukan dan mengaitkan semuanya. Pendidikan inilah yang akan mengantarkan manusia menjadi manusia yang berbudi luhur; sebagai ‘abdullah serta sebagai manusia yang baik di hadapan manusia lainnya dan juga semesta.

Islam tidak mengenal eksklusivitas profesi pendidik, seperti yang dinyatakan oleh Dr. Nashrudin Syarief dalam sebuah simposium; “bahwa setiap orang adalah pendidik sekaligus peserta didik. Landasannya ada pada QS. Ali Imran ayat 79.” Pun juga pada QS. Al-Baqarah ayat 30 "Setiap manusia adalah khalifah", ini memiliki konsekuensi logis bahwa manusia sudah selayaknya melakukan perawatan pada kehidupan, yaitu melalui pendidikan yang baik. Hal ini menunjukkan bahwa setiap orang adalah peserta didik, sekaligus pendidik.

Pendidikan dalam Islam sudah sangat terstruktur, Prof. Dr. Ahmad Tafsir dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islami mengemukakan bahwa orangtua sudah dianjurkan mendidik anaknya sejak si anak dalam rahim ibunya, bahkan quran dan hadits menerangkan bahwa itu dimulai sejak memilih jodoh. Begitu lahir, ada tuntunan mendidiknya misal memberi nama yang bagus, aqiqah, dan selanjutnya peneladanan dan pembiasaan yang sesuai dengan ajaran Islam.

Dalam perspektif Islam, orangtua adalah pendidik yang paling bertanggung jawab atas pendidikan anaknya. Ini dibuktikan dalam Q.S. At-Tahrim ayat 6, yang artinya “peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...”. Ayat ini berisi tuntutan untuk melaksanakan pendidikan dalam ranah keluarga, khususnya pendidikan orangtua terhadap anak untuk menciptakan keluarga yang shaleh; jauh dari siksa api neraka. Ibu juga dikenal sebagai al-madrosatul ula, uswah pertama yang jadi teladan untuk anak, sebagai pengantar pada jenjang pendidikan yang lebih luas.

Lalu ada lembaga pendidikan seperti sekolah atau pondok pesantren yang sama-sama menjembatani peserta didik untuk menggali potensi akal, jasmani dan rohani. Dalam sejarah pendidikan Islam, di era Nabi Muhammad ada beberapa lembaga pendidikan; seperti Baitul Arqam dan Kuttab; yang menjadi sarana belajar para sahabat pada saat itu. Lembaga pendidikan hingga saat ini sama-sama memiliki peran vital dalam penyaluran ilmu pengetahuan dan pembentukan pribadi muslim yang shaleh. Di dalamnya terdapat hubungan dua arah yang kuat antara pendidik dan peserta didik. Tentu ini akan menjadi wadah saling belajar dan mengingatkan untuk setiap individu yang berperan aktif di dalamnya.

Masyarakat juga tak lepas padanya menghadirkan peran pendidikan. Pembentukan lingkungan belajar yang kondusif, dukungan kuat terhadap pendidikan, dan pengembangan potensi individu; akan mempengaruhi hasil daripada pendidikan setiap peserta didik. Bagaimana tidak? Pendidikan di masyarakat dimulai sejak adanya interaksi sosial, tontonan sebagai tuntunan, hingga pendidikan di dalam masyarakat yang dilakukan secara eksplisit; mengadakan pendidikan berbasis masyarakat seperti pendidikan rakyat, dll.

Pemerintah pun sama, memiliki peran krusial dalam pembangunan pendidikan dalam skala nasional yang lebih masif melalui kebijakan-kebijakan yang dihadirkan. Seperti fasilitasi ruang- ruang pendidikan yang dilakukan Bani Abbasiyah yang menghadirkan beberapa lembaga pendidikan; Kuttab, Majelis Muhadharah/Saloon, Madrasah, Badiah, hingga Darul Hikmah yang didirikan Harun ar-Rasyid. Kebijakan serta fasilitasi yang berorientasi pada akselerasi pendidikan ini memicu semangat masyarakat dalam wilayah pendidikan. Hal ini menjadikan integrasi antara masyarakat dan pemerintah menghasilkan masyarakat yang gandrung akan ilmu pengetahuan dan kemajuan peradaban.

Di Amerika, para pejabat publiknya menyatakan dekade 1970-an Amerika Serikat disebut sebagai dekade membaca. Ini diawali 3 tren, yaitu; sokongan pemerintah yang gencar menyosialisasikan literasi dan pendidikan, kemudian hal ini disambut baik oleh masyarakat, pemerintah dan masyarakat bersama-sama mendukung program tersebut dan saling memajukan satu sama lain; hingga terbentuklah dekade membaca.3 Artinya, peran pemerintah serta dukungan langsung masyarakat sangat berperan secara signifikan dalam kemajuan pendidikan.

Lalu, apa hambatan terwujudnya sinergisitas subjek pendidikan dalam prosesi pendidikan? Faktor paling menonjol yang menjadi penghambat adalah ketidakpekaan serta ketidakpedulian beberapa elemen. Saling lempar dan lepas tanggung jawab tentang siapakah pelaku pendidikan. Misal, orangtua yang menganggap pendidikan anak telah selesai setelah anak disekolahkan; sekolah menganggap pendidikan selesai setelah transfer of knowledge; masyarakat tidak menyadari bahwa lingkungannya berperan penting dalam perkembangan pendidikan tiap individu yang terlibat; dan pemerintah yang kerap abai dalam menyikapi pesoalan pendidikan yang hadir di tengah masyarakatnya.

Padahal, pendidikan adalah hal yang saling menautkan berbagai elemen, tidak bisa berdiri sendiri. Untuk memupuk kesadaran bersinergis tersebut, pemerintah sebagai pemangku kebijakan sudah sepatutnya mengedepankan proram pendidikan yang melibatkan berbagai kalangan, khususnya penekanan keterlibatan aktif keluarga dalam membersamai pendidikan anak; lembaga-lembaga pendidikan yang dianggap patronase pendidikan hari ini, harus mulai gencar melibatkan berbagai elemen, khususnya keluarga dan masyarakat sekitar untuk menciptakan atmosfer pendidikan yang baik demi melahirkan nafas panjang pendidikan yang segar dan ideal.

Sehingga, peserta didik sejak dini terarahkan dan terawasi langkahnya dari hal-hal terkecil hingga yang jauh lebih besar. Anak didik tidak akan kebingungan dan tidak akan terperosok pada jurang kesesatan. Karena setiap derap langkahnya ada yang membersamai, di setiap tikungan ada yang memotivasi, di setiap persimpangan ada yang mengarahkan. Anak didik akan merasa biasa dengan pendidikan setiap langkahnya diwarnai atmosfer pembelajar “wayatafakkaruuna fii kholqi as-samaawaati wa al-ardh”, karena sejak ia lahir dan dibesarkan, keluarga menjadi penopang pendidikan yang pertama dan utama, kemudian melangkah pada lembaga-lembaga pendidikan untuk memperuncing pengetahuan dan memuliakan akhlak, dan masyarakat sebagai manifestasi dari pendidikan yang ditempuhnya sekaligus laboratorium pendidikan yang lebih kompleks dan mematangkan perjalanan anak didik tersebut.

Ketika sinergisitas subjek pendidikan terhubung dan terlaksana dengan baik; dilengkapi dengan komunikasi yang efektif, kerja sama yang solid, pemanfaatan teknologi secara optimal, hingga senantiasa mengadakan evaluasi yang berkelanjutan; maka, perjalanan pendidikan akan menemukan kemajuan hingga pada titik idealnya. Tujuan pendidikan tak lagi menjadi utopia berjalan--- pendidikan kelak mampu melahirkan peradaban gemilang berdasarkan tujuan pendidikan; mencerdasakan manusia dan menciptakan manusia berbudi luhur di hadapan tuhan dan di hadapan manusia serta semesta.

DAFTAR PUSTAKA

Feisal, Jusuf Amir. Reorientasi Pendidikan Islam. Jakarta: Gema Insani Press, 1995. Ferrer, Francisco. Asal-Usul Dan Cita-cita Sekolah Modern. Jakarta: Penerbit Ramu, 2021. Paulo freire, Ivan Illich, dkk. Menggugat Pendidkan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2023.

Tafsir, Ahmad. Filsafat Pendidikan Islami. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2020.

Uhbiyati, Nur. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan Islam. Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 2016.

 

 

 

 

Versi cetak
# keluarga, # linkungan masyarakat, # pemerintah, #pendidikan

Artikel Terkait

BEM IAI PERSIS Bandung Gelar IAI EXPO 2025: Ajang Kompetisi dan Silaturahmi Pelajar se-Bandung Raya
BEM IAI PERSIS Bandung Gelar IAI EXPO 2025: Ajang Kompetisi dan Silaturahmi Pelajar se-Bandung Raya
12 Juni 2025 111 views

Bandung, 12 Juni 2025 — Institut Agama Islam (IAI) PERSIS Bandung menggelar kegiatan bertajuk ...

Mahasiswa PAI IAIPI Bandung Raih Juara Pertama Lomba Cerdas Cermat di UNISBA
Mahasiswa PAI IAIPI Bandung Raih Juara Pertama Lomba Cerdas Cermat di UNISBA
1 Juni 2025 68 views

Bandung – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Agama Islam Persatuan ...

Menyelami Dunia Industri Kreatif, Mahasiswa IAT Kunjungi South Legend
Menyelami Dunia Industri Kreatif, Mahasiswa IAT Kunjungi South Legend
31 Mei 2025 44 views

Mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir Institut Agama Islam (IAI) melakukan kunjungan indu...

Dua Guru Besar Dukung Penuh, ProgramBEM IAIPI Siap Melaju ke Level Nasional
Dua Guru Besar Dukung Penuh, ProgramBEM IAIPI Siap Melaju ke Level Nasional
28 Mei 2025 24 views

Bandung, 27 Mei 2025 — Upaya pengembangan program strategis yang diinisiasi oleh sekelompok ma...

Rektor IAI PERSIS Bandung Lantik Tasykil 2025–2027
Rektor IAI PERSIS Bandung Lantik Tasykil 2025–2027
27 Mei 2025 37 views

Bandung, IAIPI UPDATE – Rektor Institut Agama Islam (IAI) PERSIS Bandung secara resmi melantik...

Artikel Terkini

Kalender Akademik

« Apr 2026 »
Minggu
Senin
Selasa
Rabu
Kamis
Jumat
Sabtu
29 30 31 1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 1 2
3 4 5 6 7 8 9

PMB S1

INFO

🎓 Pendaftaran Mahasiswa Baru S1

Bergabung bersama IAI Persis Bandung
Kampus Islami, Unggul, dan Berdaya Saing Global.

  • ✔ Program Studi Terakreditasi
  • ✔ Kurikulum Islami & Modern
  • ✔ Dosen Profesional
Daftar Sekarang

PMB S2